Translate

Kamis, 31 Juli 2014

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL (Bass & Avolio) - Pada Kasus Pengasuh Pondok Pesantren




A.            Kepemimpinan Transformasional
1.              Definisi Kepemimpinan Transformasional
Menurut Bass (1985), kepemimpinan transformasional merupakan proses yang menghasilkan tingkat kinerja yang lebih tinggi dalam organisasi. Pemimpin mampu menyelaraskan semua anggota pada visi dan misi yang sama dan berorientasi ke masa depan, melihat masalah dari perspektif baru dengan mendorong anggotanya untuk berfikir kreatif (Amelo, 2007). Secara ringkas Muharrem (1985), juga menjelaskan definisi kepeminpinan transformasional Bass sebagai kemampuan untuk mengenali kebutuhan akan perubahan, untuk menciptakan visi pada perubahan tersebut, dan untuk melakukan perubahan secara efektif.
Kepemimpinan transformasional mendorong bawahannya dan memberikan cara berfikir kritis yang mempengaruhi komitmen karyawan (Avolio dan Bass, 1994 dalam Sabir et al. 2011).

2.              Kriteria Kepemimpinan Transformasional Bass
Menurut Bass (1985 dalam Ancok, 2012), ada empat hal yang menjadi ciri-ciri pemimpin transformasional, yakni: idealized influence, intellectual stimulation, individual consideration, dan inspirational motivation.
a.      Pengaruh yang diidealkan (idealized influence)
Idealized influence adalah sifat-sifat keteladanan (role model) yang ditunjukkan kepada pengikut dan sifat-sifat yang dikagumi pengikut dari pemimpinnya. Idealized influence pada dasarnya pemberian keteladanan pada pengikut melalui perilaku dan ucapan. Dalam mempraktekkan aspek keteladanan ini, seorang kyai pengasuh sebuah pondok pesantren akan memberikan makna yang terkandung dalam visi pesantren secara menarik dan menggugah semua santrinya untuk turut serta mewujudkan visi tersebut. Pengasuh pesantren juga menyampaikan harapan yang tinggi kepada santrinya agar termotivasi untuk berbuat lebih baik. Selain itu, pengasuh juga menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan bukan untuk kepentingan pribadi, maupun untuk kepentingan pesantren, santri, dan masyarakat. Menghormati semua golongan, rendah hati, menjunjung etika moral dalam bekerja dan mempraktekkan nilai-nilai sebuah pesantren secara umum dengan tulus juga merupakan bentuk idealized influence seorang kyai pengasuh pondok pesantren. Seorang kyai yang transformatif juga memiliki sikap yang percaya diri dan keyakinan atas apa yang dikatakannya.
b.      Stimulasi intelektual (intellectual stimulation)
Dalam menunjukkan aspek intellectual stimulation, pemimpin mengajak pengikutnya untuk selalu mempertanyakan asumsi di balik suatu hal, mencari cara baru dalam mengerjakan suatu hal. Pemimpin tidak mengkritik dan menilai gagasan yang dilontarkan. Pemimpin lebih berfokus pada pemberian apresiasi pada setiap gagasan. Sikap seperti itu membuat karyawan bergairah untuk mengemukakan gagasannya.
Seorang kyai yang transformatif akan merangsang santrinya untuk berfikir kreatif dalam mengatasi masalah-masalah yang berkembang. Selain itu, dia juga akan memberikan fasilitas bagi santri-santrinya untuk terus belajar dan menambah wawasan. Kesalahan yang dilakukan oleh santri akan dijadikan sebagai bahan evaluasi pembelajaran, dan sebagai pemimpin dia akan merangsang santrinya untuk memikirkan kembali gagasan yang lebih baik.
c.       Kepedulian secara perorangan (individual consideration)
Individual consideration adalah ciri pemimpin yang memperhatikan kebutuhan pengikutnya dan membantu pengikutnya agar mereka bisa maju dan berkembang dalam karier dan kehidupan mereka. Pemimpin sangat memperhatikan kebutuhan psikososial anggota yang dipimpinnya, dia juga memfasilitasi dan mendukung pengikutnya untuk maju dan berkembang.
Sebagai pemimpin pesantren, seorang kyai yang transformasional akan memperlakukan secara hormat (Jawa: ngajeni asal kata “aji”) santri-santrinya sesuai keunikan masing-masing. Sang kyai yang transformasional juga akan mengapresiasi santrinya yang melakukan suatu hal dengan baik.
d.      Motivasi yang inspirational (inspirational motivation)

           Motivasi yang inspirasional selaras dengan kriteria pemimpin yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantoro, “ing madya mangun karsa”. Yakni, sifat pemimpin yang memberikan inspirasi dalam bekerja, dalam melaksanakan suatu amanah, mengajak pengikutnya untuk mewujudkan sebuah cita-cita bersama agar hidup dan karya mereka bermakna. Bertugas bukan hanya sarana untuk mendapatkan uang, melainkan juga sebuah wahana untuk menemukan kebermaknaan hidup sehingga seorang pemimpin pesantren yang transformasional akan selalu memotivasi santrinya untuk mencapai hasil kerja yang luar biasa, baik dalam melaksanakan tugas mereka sebagai pengurus di pesantren maupun untuk pengembangan pribadi mereka.

B.    Multifactor Leadership Questionnair (MLQ)
Salah satu instrumen yang bisa digunakan untuk mengetahui tipe kepemimpinan seorang pemimpin ialah Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ). MLQ terdiri atas tiga jenis tipe kepemimpinan yang disusun sedemikian rupa untuk mengetahui tipe kepemimpinan yang diterapkan oleh seseorang (Avolio, Antonakis, & Sivasubramaniam, 2003; Khan & Malik, 2014). Ketiga tipe kepemimpinan yang tercakup dalam MLQ antara lain:
a.      Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional terdiri atas lima dimensi, antara lain:
1) Idealized influence (atribusi): anggota kelompok menerima pemimpin mereka sebagai seseorang yang berpengaruh, kharismatik, dan mendedikasikan dirinya untuk menggapai tujuan yang lebih tinggi.
2) Idealized influence (perilaku): langkah-langkah yang diambil oleh pemimpin diambil berdasarkan pada etika yang dapat dipercaya, nilai-nilai, dan tercapainya misi.
3)  Inspirational motivation: sifat pemimpin yang tidak hanya selalu memotivasi anggotanya untuk mengembangkan organisasi, namun ia juga mengajak pengikutnya untuk mewujudkan sebuah cita-cita bersama agar hidup dan karya mereka bermakna
4)  Intellectual stimulation: pemimpin mengajak pengikutnya untuk selalu mempertanyakan asumsi di balik suatu hal, mencari cara baru dalam mengerjakan suatu hal. Pemimpin tidak mengkritik dan menilai gagasan yang dilontarkan.
5)   Individual consideration: ciri pemimpin yang memperhatikan kebutuhan pengikutnya dan membantu pengikutnya agar mereka bisa maju dan berkembang dalam karier dan kehidupan mereka. Pemimpin sangat memperhatikan kebutuhan psikososial anggota yang dipimpinnya, dia juga memfasilitasi dan mendukung pengikutnya untuk maju dan berkembang.
b.      Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional terdiri atas tiga dimensi, antara lain:
1) Contingent reward (tergantung imbalan): pemimpin pasti akan memberikan reward/imbalan/gaji kepada anggota yang telah menyelesaikan dengan teliti terhadap tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
2)   Management by exception (active): pemimpin secara aktif mengontrol anggota dan dengan segera mengambil langkah-langkah penanganan ketika beberapa kesalahan/kegagalan telah terjadi.
3)   Management by exception (passive): pemimpin memberikan kebebasan kepada anggota untuk menunjukkan tugas-tugas hariannya dan akan mengambil langkah hanya pada kasus-kasus darurat yang pasti bermasalah atau ketika terjadi kemerosotan dari standard-standard yang telah ditetapkan.
c.       Kepemimpinan Laissez-fair (non-leadership)
Kepemimpinan tipe ini lebih cenderung untuk menghindari membuat keputusan, tidak responsif, tidak memberikan umpan balik kepada anggotanya, dan cenderung tidak menggunakan wewenangnya sebagai pemimpin. Tipe ini merupakan tipe kepemimpinan yang paling pasif dan tidak efektif.

MLQ yang dimaksud di sini adalah MLQ yang diterjemahkan oleh Ancok (2012) dari MLQ yang dikembangkan oleh Bass & Avolio (1995), Mind Garden, Inc. (1690). Adapun skoring skala MLQ ialah dengan menjumlahkan skor respon yang diberikan responden. Dianggap tinggi jika memiliki skor 9-12, rata-rata jika total skornya 5-8, dan rendah jika skornya 0-4.

Tidak pernah
Sesekali
Kadang-kadang
Cukup sering
Sering sekali
0
1
2
3
4

 

PEMBELAJARAN KONSUMEN



Dalam perspektif pemasaran, pembelajaran konsumen dianggap sebagai proses bagi individu untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman pembelian dan pemakaian yang mereka terapkan pada perilaku yang akan datang. Proses artinya, terus menerus berkembang dan berubah karena adanya pengetahuan yang baru diperoleh atau dari pengalaman yang dialami sendiri.
Beberapa unsur pembelajaran yang sudah disepakati para pakar teori pembelajaran meliputi: motivasi, isyarat, tanggapan, dan penguatan.
·         Motivasi
Seperti dalam pembahasan sebelumnya bahwa motivasi digerakkan oleh suatu keadaan tertekan karena kebutuhan yang belum terpenuhi. Dalam pembelajaran konsumen, motivasi berfungsi sebagai pemacu pembelajaran yang terus mendorong individu untuk berusaha memperoleh pengetahuan dan pengalaman pemakaian barang dan jasa.
·        Isyarat (cues)
Merupakan stimuli yang memberikan arah berbagai motif. Seperti iklan produk/jasa, harga, gaya, kemasan, penataan toko, dan segala hal yang mampu menarik perhatian motif seseorang untuk memuaskan kebutuhannya.
·        Respon
Cara konsumen bereaksi terhadap isyarat/stimuli yang diberikan pemasar akan bergantung pada pembelajaran sebelumnya. Banyaknya isyarat yang bersaing untuk mendapatkan perhatian konsumen tidak semua akan direspon namun tergantung mana respon yang diperkuat sebelumnya.
·        Penguatan
Reinforcement meningkatkan kemungkinan bahwa respon khusus akan terulang di masa akan datang karena adanya berbagai stimuli khusus, dan juga sebaliknya.


TEORI PEMBELAJARAN PERILAKU
  • Clasical Conditioning
Pengulangan
Pengulangan meningkatkan kekuatan asosiasi antara CS dan UCS dan memperlambat proses melupakannya. Namun, ada batas tertentu dimana seseorang malah merasa jemu dengan banyaknya pengulangan/paparan, dan perhatian maupun ingatan justru akan menurun. Untuk itu pemasar biasanya menerapkan strategi variasi kosmetik[1] maupun variasi substantif[2].
Generalisasi Stimulus
Para pakar teori pengondisian klasik menjelaskan bahwa pengondisian tidak hanya tergantung kepada pengulangan, tetapi juga pada kemampuan untuk melakukan generalisasi stimulus. Jika generalisasi stimulus tidak bisa dilakukan, maka tidak banyak pembelajaran yang akan terjadi.
Berdasarkan teori ini pula banyak berkembang berbagai produk tiruan (me too) yang mengacaukan stimuli yang dilancarkan produk unggulan. Disamping itu, secara positif generalisasi stimulus dilakukan pemasar dengan melakukan:
(1)  Perluasan lini, produk, dan golongan produk.
Ex: Sabun berbagai aroma, golongan alat kebersihan gigi Pepsodent;
(2)  Pemakaian family branding.
Ex: Berbagai bentuk produk Yamaha (alat musik, moto, mobil, dll);
(3)  Pemberian lisensi.
Ex: Ikon Angry Bird yang disewa banyak produk.
Diskriminasi Stimulus
Lawan dari generalisasi stimulus adalah diskriminasi stimulus yang dimaksudkan untuk membedakan stimulus yang serupa menjadi stimulus khusus/khas. Sehingga pemasar akan berusaha membedakan citra maupun identitas produknya dengan produk pesaing. Ex: Larutan Cap Badak Vs Cap Kaki Tiga, AQUA berusaha menekankan bahwa “aqua” adalah AQUA.

  • Operant Conditioning
Seperti yang kita ketahui bersama, para pakar teori conditioning respon menjelaskan bahwa pembelajaran terjadi melalui proses trial and error, dimana kebiasaan dibentuk sebagai hasil ganjaran yang diterima untuk respon dan perilaku tertentu.
Baik penguatan positif maupun negatif dapat digunakan untuk menimbulkan tanggapan yang diinginkan. Jika respon yang dipelajari konsumen tidak lagi diperkuat, maka akan makin menghilang sampai pada tingkat penghapusan/extinction. Ada perbedaan mengenai “terhapus” dan “terlupakan”, semisal konsumen yang sudah lama tidak lewat di kota X sehingga sudah lupa dengan kualitas restoran Y, maka itu adalah contoh kasus terlupakan dimana lebih dipengaruhi oleh waktu.
Contoh: reinforcement negatif: iklan asuransi jiwa yang lebih menonjolkan akibat buruknya sebuah kecelakaan.
Urutan Penguatan
a)    Ratio (fixed/variable), contoh: beli 5 gratis 1,  setiap mencapai jumlah X  bonus
b)    Interval (fixed/variable), contoh: berlangganan selama 1 th --> mendapat asuransi
Sebagai catatan bahwa ternyata sebagian besar proses pembelajaran juga terjadi melalui proses peragaan atau pengamatan. Dengan memperhatikan atau mempelajari respon yang timbul pada orang lain, individu juga melakukan pembelajaran. Hal inilah yang menjadi betapa pentingnya public figur yang digunakan untuk menyampaikan iklan.

TEORI PEMBELAJARAN KOGNITIF
Dalam teori ini, pembelajaran yang menjadi ciri khas manusia adalah pemecahan masalah. Tidak seperti teori perilaku, pembelajaran dalam teori ini menyangkut pengolahan mental yang kompleks terhadap informasi. Pengolahan informasi berkaitan dengan kemampuan kognitif konsumen maupun kompleksitas informasi yang akan diolah. Para konsumen mengolah informasi berdasarkan sifat-sifat, merk, perbandingan antara merek, atau kombinasi dari semua faktor ini.








[1] Variasi kosmetik: Dengan mengubah background, tipe cetak yang berbeda, public figur yang berbeda.
[2] Variasi substantif:Perubahan isi iklan yang meliputi berbagai versi iklan, dengan tidak ada perubahan ciri-ciri kosmetiknya.