Translate

Kamis, 03 Januari 2013

Homoseksual: Definisi dan Faktor




A.    Mitos Tentang Homoseksual
Fenomena gay telah menjadi isu hangat di beberapa negara. Ada sebagian negara yang sudah melegalkan hubungan bahkan pernikahan pasangan gay maupun lesbian. Mereka yang saling menjalin hubungan kemudian ada juga yang memiliki naluri untuk mengadopsi anak ataupun melakukan inseminasi buatan agar bisa mendapatkan keturunan dari hubungan sesama jenis ini. Terlepas dari semua itu, kaum homoseksual sebagian besar diatribusi negatif (karena atribut yang mereka “buat” sendiri—stigma) dari masyarakat pada umumnya (straight people) karena perbedaan orientasi seksualnya yang dianggap menyimpang.
Seperti halnya beberapa kasus kaum homoseksual di bawah ini:

Kasus 1
Crispin Blunt ialah seorang anggota parlemen Inggris yang mengumumkan bahwa dia telah menceraikan istrinya yang sudah dinikahinya selama 20 tahun. Hal itu dilakukannya lantaran dia sudah muak dengan istrinya dan dia mengakui bahwa telah menemui jati dirinya sebagai gay. Selama 30 tahun dia bergumul dengan homoseksualitas, terbesit dalam pikirannya untuk sembuh. Namun usahanya ternyata sia-sia, ia tidak sembuh malah menjadi depresi. Akhirnya ia merasa sudah cukup dengan mengakhiri semuanya dengan meninggalkan istri dan kedua anaknya.

Kasus 2
Pastur Eddie Long seorang televangelis baptis yang terkenal di daerahnya. Pada tahun 2004 ia memimpin barisan untuk makam dr. Martin Luther king. Dia pernah menyatakan bahwa gerejanya dapat memberikan pengarahan kepada orang melalui homoseksualitas. Akhirnya dia digugat oleh 4 orang pemuda yang mengatakan bahwa pastur Eddie Long menggunakan ketenaran yang dia dapat untuk mengajak pemuda-pemuda tersebut memuaskan nafsu seksualnya. Ia menggunakan pengaruhnya untuk mengambil anak-anak  dari tempat-tempat yang miskin seperti dari negara Kenya. Mereka dibayar kebutuhan hidupnya, ia juga memberikan hadiah seperti mobil, uang tunai, dan perhiasan sebagai bayaran untuk saling mastubarsi, oral seks dan memijat.
Dari catatan seperti salah satu kasus di atas, beberapa mitos tentang homoseksual berkembang di masyarakat yang tentunya berbeda dengan fakta empiris yang dikomparasikan dengan hasil riset. Seperti kepercayaan masyarakat bahwa kebanyakan gay berperilaku feminim, yakni jika mereka berjalan, berbicara, dan paras tubuhnya seperti wanita. Sebaliknya juga berkembang mitos bahwa kaum lesbian cenderung berperilaku seperti pria. Namun kenyataannya, sangat sulit membedakan secara fisik antara mereka yang gay/lesbian dengan orang normal. Kebanyakan dari kaum gay dan lesbian lebih terlihat seperti “straight people” atau orang normal heteroseksual.
Mitos yang lain disebutkan kembali dalam Thio (2010), bahwa gay dan lesbian konsisten memiliki salah satu peran yang spesifik (sebagai partner aktif/pasif ketika berhubungan seksual). Begitu juga pada pasangan homoseks, salah satu dari mereka dipercaya ada yang dominan berperan layaknya “suami” dan “istri”. Namun fakta berkata lain, ternyata pasangan homoseks keduanya saling mencoba untuk menjalani kedua alternatif peran. Mereka juga menganggap partner sex mereka seperti dalam hubungan persahabatan (Peplau, 1981).
Banyak juga yang mengatakan bahwa seorang gay dan lesbian sangat terobsesi dengan hubungan seks yang sangat gemar melakukan hubungan seksual setiap saat. Pada kenyataannya, laki-laki gay memiliki perilaku seks yang sama dengan laki-laki heteroseksual sebayanya—yakni dua atau tiga kali dalam seminggu. Bahkan pada wanita lesbian menunjukkan kurang ketertarikannya pada seks—tidak lebih sekali dalam seminggu, jika dibandingkan dengan wanita yang heteroseksual yang bisa melakukan seks sampai tiga kali dalam seminggu (Blumstein dan Schwartz, 1990).
Kenyataan yang cukup mengejutkan sehingga menjadikan salah satu alasan APA pada tahun 1973 menghapus homoseksualitas dari daftar Diagnostic and Statistical Manual (DSM) adalah karena ternyata seseorang yang memiliki orientasi seksual sesama jenis bukan merupakan gangguan kejiwaan. Secara kejiwaan mereka ternyata benar-benar sehat. Namun beberapa psikiatris, psikoanalisis, dan psikolog masih percaya bahwa orientasi seks sesama jenis adalah sebuah gangguan jiwa yang masih bisa disembuhkan.
Kesimpulannya, perbedaan jenis kelamin manusia hanya terbagi menjadi dua macam, yakni pria (male) dan wanita (female). Namun berbeda dengan orientasi seksual seseorang yang memungkinkan ada perbedaan tentang derajat orientasinya. Alfred Kinsey (1948), seorang ahli biologi yang beralih menjadi sexolog menggolongkan variasi orientasi seks seseorang ke dalam sebuah kontinum, antara seseorang yang benar-benar heteroseksual (exclusively heterosexual) dan benar-benar homoseksual (exclusively homosexual).

0
Exclusively Heterosexual
1


2


3
Bisexual

4


5


6
Exclusively Homosexual

0                     Exclusively heterosexual
1                     Predominantly heterosexual, only incidentally homosexual
2                     Predominantly heterosexual, but more than incidentally homosexual
3                     Equally heterosexual and homosexual
4                     Predominantly homosexual, only incidentally heterosexual
5                     Predominantly homosexual, but more than incidentally heterosexual
6                     Exclusively homosexual

Gambar 1. Kontinum Heteroseksual-Homoseksual Kinsey

B.     Definisi dan Teori Homoseksual
Secara mendasar homoseksual didefinisikan sebagai kelainan orientasi seksual yang terjadi ketika seseorang memiliki preferensi seksual kepada sesama jenisnya—jenis kelamin atau identitas gender yang sama. Laki-laki yang homoseks disebut gay, sedangkan jika perempuan yang homoseks disebut lesbian. Menurut Savin-Williams (2005), seorang gay atau lesbian mengacu pada salah satu atau lebih dari karakteristik di bawah ini:

  1. Same-sex feeling          : memiliki ketertarikan kepada sesama jenis,
  2. Same-sex behaviour    : pernah berhubungan seks dengan sesama jenis, dan
  3. Mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai gay atau lesbian.

Namun berdasarkan saran dari APA (1991), bahwa sebutan gay dan lesbian adalah bukan homoseksual. Karena terdapat beberapa masalah dalam label homoseksual, antara lain: 1) Karena dalam sejarah, homoseksual dihubungkan dengan konsep penyimpangan dan sakit mental, hal ini dapat mengundang streotip negatif terhadap gay dan lesbian, 2) Istilah ini sering digunakan hanya untuk pria saja, hal ini menggambarkan tidak tampaknya lesbian, 3) Hal ini sering memiliki arti yang ambigu yaitu apakah mengacu pada perilaku seksual atau orientasi seksualnya.
Banyak kajian dan penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang berusaha menjelaskan bagaimana seseorang bisa menjadi gay atau lesbian. Mereka menjelaskannya ke dalam tiga teori besar: biologi, psikiatri, dan teori sosiologi:

 Teori Biologi
Orientasi seksual kepada sesama jenis, menurut ahli biologi dihubungkan dengan tiga faktor: keadaan hormonal, gen, dan otak.

  • Dijelaskan bahwa seorang gay atau lesbian memiliki hormon sex yang lebih sedikit dibanding pria atau wanita normal. Namun terdapat kritik pada teori ini yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan hormonal antara gay atau lesbian dengan pria atau wanita pada umumnya (Burr, 1996; Porter, 1996).
  • Alasan biologis selanjutnya adalah karena faktor keturunan, sehingga memang secara gen orang sudah dilahirkan sebagai gay atau lesbian.
  • Simon Le Vay (1996) dan Ridley (1996), menemukan bahwa terdapat perbedaan ukuran hipotalamus dan macam-macam syaraf pengendali dorongan seksual di bagian bawah otak. Gay dan lesbian memiliki ukuran otak yang lebih kecil dibanding manusia pada umumnya.

Teori Psikiatri
Pada tahun 1973, secara resmi APA menganggap bahwa homoseksual adalah normal secara kejiwaan. Namun juga tidak sedikit psikiater dan psikolog yang masih mempertahankan keyakinannya dan berusaha untuk “mengobati” gay dan lesbian.
Menurut teori psikiatri, gay dan lesbian awalnya muncul karena abnormalitas hubungan orang tua dan anak. Seorang gay mengidentifikasikan diri pada ibunya karena ia sering “disiksa” ayah, begitu juga sebaliknya (Socarides et al, 1997; Herman & Duberman, 1995).

Teori Sosiologi
Teori sosiologi, khususnya para sosiolog positivistik menganggap bahwa terjadinya gay dan lesbian seperti halnya seseorang yang tumbuh dan terbiasa menggunakan tangan kiri. Secara biologis memang bisa saja seseorang memiliki kemungkinan untuk menjadi gay atau lesbian sejak lahir, namun  itu masih tergantung intensitas sosialisasi orang tua kepada anaknya tentang homoseksualitas dan heteroseksualitas.

Pendekatan Behavior dan Kognitif
Dalil dasar tentang perilaku manusia menurut pendekatan behavioristik adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkapkan hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Pendekatan behavioristik memandang setiap orang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari (Corey, 2007).
 Lebih lanjut lagi Durant dan Barlow (2006), menjelaskan bahwa perilaku manusia, termasuk disfungsinya, berdasarkan prinsip-prinsip belajar dan adaptasi yang diambil dari psikologi eksperimen. Itu artinya pendekatan behavioristik lebih condong kepada teori belajar sosial (social learning theory) atau juga disebut observational learning dan teori pengondisian untuk menjelaskan perilaku menyimpang.
Menurut pandangan kedua teori tersebut, fenomena gay dan lesbian cenderung lebih dikarenakan oleh proses sosialisasi yang salah. Mereka yang gay dan lesbian pada awalnya hidup di lingkungan yang memang menerima keberadaan gay. Mereka beradaptasi dengan lingkungan yang ada dengan menginternalisasi nilai-nilai yang dianut lingkungan ke dalam dirinya (modeling). Sehingga dalam hal ini peran serta reference group sangat berpengaruh. Bisa saja pada kelompok bermain di sekolahnya, kelompok arisan, kelompok belanja, ataupun perilaku keluarganya yang dijadikan sebagai kelompok acuan.
Teori tersebut akan lebih pas jika diperkuat dengan pendapat B.F Skinner tentang teori operant conditioning-nya. Bahwa perilaku modeling yang terjadi akan diperkuat (diberikan reinforcement) dengan adanya pengakuan dan penerimaan dari lingkungannya. Sehingga seseorang akan lebih yakin bahwa apa yang ia lakukan (baik feeling, perilaku, maupun identifikasi diri homoseksual) adalah benar. Seandainya ketika proses identifikasi orientasi seksual kepada kelompok referensi tersebut mendapat penolakan dari lingkungan sosialnya yang lain, tentu pilihan menjadi seorang gay atau lesbian akan sedikit demi sedikit hilang (extinction).
Analisa dari teori ini tentunya akan mengembangkan mitos bahwa jika seorang anak hidup dengan orang tua yang homoseks, tentunya jika mereka besar mereka juga akan menjadi homoseks. Namun tidak demikian dengan hasil penelitian Stacey dan Biblarz (2001), mereka menemukan bahwa anak-anak yang diasuh oleh orang tua yang homoseks ketika dewasa mereka tetap tumbuh menjadi orang yang heteroseksual.
Intinya adalah behaviorisme dari J.B. Watson menyatakan dengan tegas bahwa: “manusia bereaksi terhadap lingkungan (environment). Karena itu, manusia belajar dari lingkungannya.” (Sarwono, 1991 dalam Sarwono, 1999).
Jika keberadaan gay dan lesbian dipandang dari perspektif kognitif—terutama dalam hal ini akan digunakan pendekatan menurut pencetus terapi realitas, William Glasser; maka sebenarnya perilaku tersebut hanyalah sebuah pencapaian prestasi seseorang. Karena menurut Glasser dan Zunin (1973 dalam Corey, 2007), bahwa setiap individu memiliki kekuatan ke arah kesehatan atau pertumbuhan. Pada dasarnya orang-orang ingin puas hati dan menikmati suatu identitas keberhasilan, menunjukkan tingkah laku yang bertanggung jawab dan memiliki hubungan interpersonal yang penuh makna.
Gay dan lesbian menurut pandangan ini secara sengaja membuat keputusan menjadi seorang gay atau lesbian untuk memenuhi kebutuhan dirinya akan identitas (mencakup kebutuhan untuk merasakan keunikan). Dalam prosesnya, pembentukan identitas sebagai seorang gay maupun lesbian tentu tidak lepas dari cinta dan penerimaan dari orang lain.
Kenyataan tersebut turut mendukung keputusan APA untuk menghapus perilaku homoseksual dari daftar penyakit gangguan jiwa karena memang pada dasarnya orang-orang homoseksual secara sadar melakukannya dan secara kejiwaan mereka sehat. Pandangan kognitif dari Glasser ini dibangun atas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Bahwa masing-masing orang berhak mengambil keputusan dan bertanggung jawab menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya.

DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, Edisi kedua, Terjemahan: E. Koswara. Refika Aditama: Bandung.
Durand, V. Mark & Barlow, David H. Intisari Psikologi Abnormal, Terjemahan: Soetjipto & Soetjipto. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Indo gay 22.wordpress.com/.../definitif. Dikunjungi tanggal 24 Desember 2012.
Nevid, Jefrey S. et al. ____. Psikologi Abnormal Edisi Kelima Jilid 2. ___
Sarwono, Sarlito Wirawan. 1999. Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Balai Pustaka: Jakarta.
Thio, Alex. 2010. Deviant Behavior, Tenth Edition. Pearson: United States of America.
Wordpress.com/.../homoseksual, gay, lesbian. Dikunjungi tanggal 24 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar